fbpx
DC Blora
0877 3919 7638

Kelor Vs. Matcha… Siapa Pemenangnya?

Kelor dan Matcha adalah dua makanan super yang sedang tren saat ini. Keduanya dikemas dengan klaim kesehatan yang fantastis dan latar belakang sejarah yang menarik. Tetapi apa sebenarnya kedua makanan ‘sehat’ ini, dan mengapa mereka sangat baik bagi tubuh kita? Mari kita lihat apa yang membuat keduanya sangat istimewa, dan mana yang lebih baik.

Matcha – Teh Hijau Spesial

Matcha adalah bentuk bubuk teh hijau, secara luas diakui sebagai identitas produk ekspor Jepang, meskipun faktanya matcha berasal dari peradaban tua di Cina. Seperti semua teh, sebenarnya matcha berasal dari daun tanaman teh, Camellia sinensis. Perbedaannya terletak pada cara khusus matcha dibudidayakan dan diolah.

Selama masa pertumbuhan, tanaman teh yang ditujukan untuk produksi matcha tertutup hingga tiga minggu, untuk merangsang produksi klorofil saat daun beradaptasi dengan tingkat sinar matahari yang lebih rendah. Hal ini pada gilirannya menghasilkan peningkatan produksi theanine, asam amino yang memberi matcha aroma yang khas.

Di mana banyak teh lain dimasukkan melalui proses oksidasi untuk mengembangkan rasa tertentu, matcha dikukus segera setelah panen untuk mencegah oksidasi. Ini membantu menjaga warna alami, aroma dan kandungan nutrisi di dalamnya. Daun-daun tersebut kemudian ditata hingga kering, dide-deformasi, diurai, dan digiling menjadi serbuk halus.

Menurut penelitian, manfaat mengkonsumsi teh hijau seperti matcha dapat mendorong produksi sel otak, meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, meregulasi gula darah, dan mencegah kanker. Berbeda dengan teh hijau biasa, di mana kita hanya mengkonsumsi sari yang diencerkan, matcha dicerna seluruhnya, baik dalam bentuk teh, makanan atau kapsul sebagai suplemen makanan.

Hal ini membuat matcha menjadi sumber asupan nutrisi yang jauh lebih banyak mengandung klorofil, theanin, antioksidan, vitamin (A, C, E dan B kompleks), beta karoten dan mikronutrien lainnya.

Kelor – Pohon Keajaiban

Kelor, dengan nama latin Moringa Oleifera, adalah jenis pohon asli daerah sub-Himalaya di Asia Timur. Penggunaannya sudah ada sejak ribuan tahun di bidang kesehatan, obat tradisional dan produksi kosmetik. Kelor sangat cepat tumbuh dan tahan kekeringan, dapat berkembang dalam berbagai kondisi iklim, dan telah dirujuk sebagai kandidat untuk ketahanan pangan.

Sejak 2013, kelor telah dibudidayakan di Zambia, untuk mengatasi masalah malnutrisi di negara tersebut.Secara keseluruhan, tanaman kelor menawarkan profil nutrisi yang yang luar biasa: tinggi protein, asam lemak, vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin E, kalium, kalsium, zat besi, beta karoten, flavonoid, dan polifenol. Semua bagian tanaman ini (daun, bunga, buah, biji, dan akar) dapat dimanfaatkan untuk kebaikan manusia.

Akar kelor telah lama digunakan dalam pengobatan Ayurvedic, biji polong dan bunga dapat dikonsumsi sebagai sayuran, dan minyak biji digunakan sejauh Yunani dan Roma kuno dalam produksi parfum dan salep.

Penelitian telah mengidentifikasi potensi terapi daun kelor pada berbagai penyakit, menunjukkan efek positif pada area fungsi paru-paru, fungsi pencernaan, daya tahan tubuh, glukosa darah, dan laktasi (produksi ASI setelah kehamilan), serta menunjukkan efek penyembuhan pada penderita kanker. Selain makanan dan kesehatan, biji kelor juga ditemukan mengandung protein yang mampu pemurnian air dan pemisahan material. Saat ini, teh daun kelor dan bubuk kelor semakin populer sebagai tambahan diet di Eropa dan Amerika

Jadi, Apakah Kelor Lebih Baik Daripada Matcha?

Menurut hasil penelitian, kelor mengalahkan matcha dalam kandungan nutrisi dengan output nutrisi yang jauh lebih besar pada serat, protein, kalsium, zat besi, vitamin A, vitamin C, dan vitamin E. Dalam hal efisiensi, kelor juga membutuhkan lebih sedikit biaya untuk dibudidayakan dan diolah, dan mempunyai kegunaan yang jauh lebih banyak daripada Matcha.

Rasa dan aroma adalah salah satu arena di mana matcha lebih unggul, dengan kegetiran ‘umami’ yang menyegarkan yang lebih dapat dinikmati daripada kelor.

Para ilmuwan kesehatan masih terus meneliti tentang efektivitas terapeutik dari kedua tanaman. Hasil uji klinis sejauh ini memberikan harapan dan bukti yang nyata bagi kesehatan manusia.

Dengan semakin tersedianya kedua makanan ini di pasar makanan kesehatan, baik matcha dan kelor dapat dinikmati, secara terpisah atau bersama-sama, dalam berbagai minuman, makanan penutup dan makanan.Apapun itu, konsumsilah dalam takaran sedikit dahulu, untuk penyesuaian tubuh dan rasa, dan konsultasikan dengan ahli gizi sebelum membuat perubahan drastis pada diet Anda.

2 thoughts on “Kelor Vs. Matcha… Siapa Pemenangnya?

    1. Hello there, thank you for visiting our blog, your suggestion is welcomed here, what part of moringa is your favorite?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *